Bab 7
PENGUJIAN HIPOTESIS
BAB VII
Mata Kuliah : Statistika

Disusun Oleh :
M. KHAERUDIN ( 2213044 )
Kelas : Akuntansi B
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
SELAMAT SRI KENDAL
TAHUN 2013 / 2014
BAB I
PENDAHULUAN
Ketika
kita menggunakan statistika untuk menguji hipotesis maka muncullah dua macam
hipotesis berupa hipotesis penelitian dan hipotesis statistika. Tepatnya
hipotesis penelitian kita rumuskan kembali menjadi hipotesis statistika yang
sepadan. Hipotesis statistika harus mencerminkan dengan baik maksud dari
hipotesis penelitian yang akan diuji.
Dalam memebuat keputusan mengenai
populasi atas informasi dari sampel, dibutuhkan asumsi-asumsi mengenai
populasi yang bersangkutan, yang disebut sebagai Hipotesa Statistik yang
umumnya merupakan pernyataan mengenai sebaran peluang dari populasi. Hipotesa
statistik dirumuskan dengan tujuan untuk menolaknya.
Hipotesis yang bersifat statistik
sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu asumsi mengenai parameter fungsi
frekuensi variable random. Berdasarkan penaksiran, lalu kesimpulan dibuat
bagaimana atau berapa besar harga parameter tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pengujian Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan tentang sesuatu yang perlu dibuktikan atau
diuji kebenarannya (Kuswadi, 2004). Asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal
yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan
penegcekkannya. Jika asumsi atau dugaan itu dikhususkan mengenai populasi, maka
hipotesis tersebut merupakan hipotesis statistik. Setiap hipotesis bisa
benar atau tidakbenar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis
itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah hipotesis
tersebut diterima atau ditolak disebut dengan pengujian hipotesis. Telah kita
ketahui bahwa suatu penduga pada umumnya tidaklah harus sama dengan nilai
parameter yang sebenarnya.
Misalnya,
distribusi probabilita yang merupakan model bagi distribusi X, katakanlah
hasil penstensilan kertas koran dalam n percobaan penstensilan demikian
dinyatakan sebagai :
F(x) = (NCx)
px (1-p)n-x
Jika p = ¼
dan n= 500, maka
F(x) =
|
500!
|
(1/4)x(3/4)500-x
|
X!(500-x)
|
Parameter p diatas merupakan probabilita kerusakan pada setiap penstensilan
sedemikian itu dan dapat merupakan suatu asumsi yang memiliki karakteristik
hipotesis statistik karena p = ¼ merupakan parameter fungsi frekuensi vareiable
random p.
Andaikan kita meragukan hipotesis diatas, maka kita dapat mengujinya
secara statistik pula jika sekali lagi jika datanya dapat dukumpulkan dan
dianalisa dalam cara yang memenuhi ketentuan asas-asas statistik. Pengujian
hipotesis diatas dianggap sebagai suatu prosedur guna menentukan apakah
hipotesis diatas sebaiknya diterima atau ditolak andaikan keraguan kita
mengenai p = ¼ di atas disebabkan oleh adanya kemungkinan p = ½ meskipun kita
yakin bahwa kemungkinan p = ¼ lebih besar dari pada p = ½ . maka,
hipotesis yang akan kita uji dapat dinyatakan sebagai berikut. H0 :
p = ¼ dan H1 : p ≠¼
H0 merupakan hipotesis nol dan merupakan hipotesis yang akan
diuji danyang nantinya akan diterima atau ditolak tergantung pada hasil
eksperimen atau pemilihan sampelnya. H1 merupakan hipotesis
alternatif atau hipotesis tandingan. Pengujian diatas membutuhkan observasi
atau hasil pemilihan sampel yang bersifat random tentang frekuensi kerusakan
X/n hasil penstensilan itu sendiri. Observasi pemilihan sampel sedemikian itu
dapat dilakukan secara berulang-ulang kali atau sekali saja.atas dasar nilai
statistik sampel, keputusan diambil untuk menentukan apakah H0
tersebut sebaiknya diterima atau ditolak. Jika H0 diterima, maka
sama artinya dengan H1 ditolak dan sebaliknya jika H0
ditolak maka H1 diterima.
Dalam melakukan pengujian
hipotesis, ada dua macam kekeliruan yang dapat terjadi, dikenal dengan
nama-nama :
a.
Kekeliruan tipe I : adalah kekeliruan karena menolak
hipotesis (H0) padahal hipotesis tersebut benar. Kekeliruan ini
disebut kekeliruan α..
b.
Kekeliruan tipe II : adalah kekeliruan menerima
hipotesis (H0) padahal hipotesis tersebut salah. Kekeliruan ini
disebut β .
Uji hipotesis atau peraturan pengambilan keputusan dilakukan dengan baik
agar kesalahan pengambilan keputusan dapat diminimalisir. Cara untuk mengurangi
kedua tipe kekeliruan tersebut adalah dengan memperbesar ukuran sampel, yang
mungkin atau tidak mungkin dilakukan (Spiegel, 1992).
2.2.
Prosedur Dasar Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis statistik memiliki prosedur yang harus diikuti tergantung
pada hipotesisnya yang distribusi populasi. Prosedur umum yang harus diikuti
tergantung pada hipotesisnya dan distribusi populasi. Prosedur umum yang harus
diikuti dapat dibagi dalam beberapa langkah :
a) Rumuskan
dengan baik hipotesis penelitian agar dapat dihitung statistik sampelnya,
seperti rata-rata, seperti :
Pengujian hipotesis dapat dilakukan terhadap satu
populasi untuk pengujian hipotesis rata-rata dua populasi. Misalnya, rata-rata
tekanan darah sapi Ongole sama dengan tekanan darah sapi Brahman.
H0 : =
= rata-rata tekanan darah sapi Ongole
= rata-rata tekanan darah sapi Brahman
Rata-rata tekana darah sampel sapi Ongole dan sapi
Brahman adalah x1 dan x2.
b) Tentukan derajat
kemaknaan α atau kesalahan tipe 1 yang akan digunakan. Penentuan ini harus
dilakukan pada saat perencanaan.
c) Tentukan kesalahan tipe 2 atau β.
Biasanya penentuan ini dilakukan pada saat menghitung besarnya sampel.
d) Tentukan distribusi
yang akan digunakan dalam perhitungan. Tentukan metode statistik yang akan
digunakan untuk menghitung statistik sampel.
e) Tentukan
kriteria menerima atau menolak hipotesis nol pada derajat kemaknaan yang telah
ditentukan.
f)
Buatlah kesimpulan
yang tepat pada populasi yang bersangkutan.
Ilusrasi
1. Prosedur Pengujian Hipotesis
2.3. Uji
– Z = Pengujian untuk Sampel Besar
Pengujian hipotesa dapat menggunakan rumus-rumus untuk variabel normal baku
(Z) atau t dan sesuai dengan tingkat nyata yang dipilih (α) dan jenis pengujian
yang dipilih (dua sisi, satu sisi kanan atau satu sisi kiri). Menggunakan (Z)
jika datanya berdistribusi atau mempunyai fungsi normal (data sampel ≥ 30)dan
menggunakan uji t jika data sampel kecil (<30).
Nilai Z dihitungkan dengan rumus
: Z =
Untuk pengujian dua sisi :
Ho diterima, jika –Z α /2 atau Z < Z α /2
Ho ditolak, jika Z > Z α /2 atau Z < -Z α /2
Untuk pengujian sisi kanan :
Ho diterima, jika Z < Z α /2
Ho ditolak, jika Z > Z α /2
Untuk pengujian sisi kiri :
Ho diterima, jika Z > -Z α /2
Ho ditolak, jika Z < -Z α /2
2.3.1. Pengujian Parameter Rata-rata, Ho:
µ=µ0 dimana σ2 Tidak Diketahui
Nilai Z dihitungkan dengan rumus
: Z =
Untuk pengujian dua sisi :
Ho diterima, jika –Z α /2 atau Z < Z α /2
Ho ditolak, jika Z > Z α /2 atau Z < -Z α /2
Untuk
pengujian sisi kanan :
Ho diterima, jika Z < Z α /2
Ho ditolak, jika Z > Z α /2
Untuk
pengujian sisi kiri :
Ho diterima, jika Z > -Z α /2
Ho ditolak, jika Z < -Z α /2
Contoh :
Jumlah
kunjungan di Peternakan A dan jumlah kunjungan di Peternakan B mempunyai varian
yang sama, yaitu 25 dan akan diuji apakah terdapat perbedaan. rata-rata jumlah
pengunjung di Peternakan A dan Peternakan B berada pada derajat kemaknaan 0,05.
Dari Peternakan A dan Peternakan B diambil sampel sebesar 50 dan 60 hari kerja
hingga diperoleh rata-rata 62 dan 60 kunjungan.
Jawab :
Hipotesis
statistik: H0 : µ1 = µ2
Ha :µ1 ≠ µ2
Α = 0,05
Diketahui:
n1 =
50
n2 = 60
= 62
2 = 60
σ12 =
25
σ22=
25
= σ
= 5√1/50 + 1/60 = 0,957
Interval konfidensi: µ1 =
µ2 = 0
0 - 1,96 x 0,957 = -1,87
0 + 1,96 x 0,957 = 1,87
H0 akan
diterima bila selisih rata-ratanya terletak antara -1,87 dan +1,87. Selisih
sampel 62-60=2
Hipotesis nol
ditolak pada α 0,05 atau p<0,05
Kesimpulannya,
kita 95% percaya bahwa terdapat perbedaan antara rata-rata sampel pada derajat
kemaknaan 0,05 atau p<0,05
Grafik pengujian hipotesis perbedaan
jumlah kunjungan peternakan
Penyelesaian soal ini dapat
dilakukan dengan menghitung nilai Z, seperti berikut:
Z
= ( ) /
= 62 - 60 / 0,957= 2,09
H0 akan diterima bila
selisih rata-ratanya terletak antara -1,96 dan +1,96 Hipotesis nol ditolak
karena terletak diluar daerah penerimaan pada derajat kemaknaan 0,05 atau
p<0,05
Grafik pengujian hipotesis perbedaan
jumlah kunjungan Peternakan
Z = 2,09
2.3.2. Pengujian H0 : µ1 = µ2 Dimana
σp2 Diketahui dan σ12 = σ22
Dalam bidang tertentu kita
sering dihadapkan dengan masalah yang membutuhkan penarikan kesimpulan, apakah
parameter dua populasi memang berbeda atau perbedaan yang tampak hanya
desebabkan oleh faktor kebetulan. Dalam hal ini, kita berhadapan dengan
perbedaan antara dua populasi. Salah satu macam pengujian hipotesis perbedaan
dua parameter populasi adalah pengujian perbedaan rata-rata dua pihak dengan
sampel besar dimana kesalahan baku kedua populasi sama dan diketahui. Pengujian
hipotesis tersebut bisa dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
Statistik uji Z =
Dimana =
Contoh soal :
Dua orang teknisi melakukan observasi secara
sendiri-sendiri mengenai hasil rata-rata per jam dari penggunaan suatu mesin
pemotong bulu domba teknisi (A): 12 obervasi dan memperoleh hasil rata-rata 120
kilogram. Sedangkan teknisi (B): 8 observasi rata-rata 115 kilogram. Pengalaman
menunjukkan bahwa σ2 = 40 kilogram. Apakah kedua teknisi yakin bahwa
beda antara kedua hasil rata-rata tersebut diatas betul-betul nyata, bukan
karena faktor kebetulan?
Jawab :
1.
H0 : µ1= µ2 dan H1
: µ1 ≠ µ2
2.
α = 0,05
3.
Z =
4.
Daerah kritis (terima H1) dengan α =
0,05 secara 2 arah
a.
Z > Z ½ α dan Z < - Z ½ α
b.
Z > 1,96 dan Z < - 1,96
5.
Z = = 1,73358
6.
Karena 1,73358 < 1,96 maka H0 diterima,
beda rata-rata hanya disebabkan faktor kebetulan dan tidak nyata serta µ1=
µ2.
2.4. Uji-t Pengujian untuk Sampel Kecil
Uji beda dua mean dapat dilakukan dengan menggunakan uji Z atau uji T. Uji
Z dapat digunakan bila standar deviasi populasi (σ) diketahui dan jumlah sample
besar (lebih dari 30). Apabila kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka di
lakukan uji T. Pada umumnya nilai σ sulit diketahui, sehingga uji beda dua mean
biasanya menggunakan Uji T (T - Test). Untuk varian yang sama, bentuk ujinya
adalah sebagai berikut.
T = X1
– X2
Sp (1/n1) + (1/n2
SP2 = (n1-1)
S12 + (n2-1) S22
n1 + n2 - 2
df = n1 + n2 – 2
Keterangan :
N1
atau n2 = jumlah sampel kelompok 1 atau 2
S1
atau S2 = standar deviasi sampel kelompok 1 dan 2
2.4.1. Pengujian H0 : µ = µ0
Dimana σ2 Tidak Diketahui
Contoh :
Nilai rata-rata
ujian statistika di Fakultas Peternakan tahun lalu adalah 76 dan tahun ini
diperkirakan nilai rata-rata tersebut akan sama dengan tahun lalu (Ho).
Setelah selesai ujian tahun ini, diambil 40 mahasiswa sebagai sampel dan nilai
rata-rata = 73 dengan simpangan baku (S) = 6. Dengan menggunakan α = 5%, apakah
Ho diterima atau ditolak?
Jawab: Ho
: Nilai rata-rata ujian statistika = μ = 76
H1 : Nilai rata-rata ujian statistika = μ ≠ 76
Dipergunakan
pengujian dua sisi.
Ho diterima, jika –Z α /2 < Z < Z α /2
Ho ditolak, jika Z > Z α /2 atau Z < -Z α /2
Untuk α =
5%, nilai Z α /2 = 1,96 (lihat table luas kurva normal, angka 95%/2 atau 0,4750
ada pada koordinat 1,9 dan 0,06 atau 1,96)
Data dari
sapel seperti tersebut diperoleh:
Z = = = = -3,16
Oleh karena
itu –Z α /2 ( -1,96) < Z ( -3,16) Z α /2 (1,96), maka kesimpulannya Ho
diterima. Atau, dengan kata lain, nilai ujian rata-rata statistika tahun ini
sama dengan tahun lalu.
2.4.2.
Pengujian Ho : µ1 = µ2 atau µ1 - µ2 =
0, Jika σ2 tidak diketahui
dan σ
12 = σ 22
Apabila simpangan baku tidak diketahui dan sampelnya kecil maka digunakan
distribusi t (Budiarto, 2002). Statistik t dirumuskan sebagai berikut :
t
= (X1- X2)
Sp √1 / n1 + 1/n2
Simpangan
baku biasanya ditaksir dari simpangan baku sampel, tetapi karena tidak
diketahui, maka harus dihitung dahulu simpangan baku gabungannya (Budiarto,
2002). Rumusnya adalah sebagai berikut :
Sp2
= (n1-1)S12 + (n2-1)S22
n1 + n2 – 2
Keterangan :
n1
atau n2 = jumlah sampel kelompok 1 atau 2
S1
atau S2 = standar deviasi sampel kelompok 1 atau 2
Statistik uji – t memiliki distribusi t dengan derjat bebas (n1 + n2 - 2). Daerah
kritis (menerima H1) pengujian untuk populasi tak terbatas :
(X1
– X2) > t (1/2 α : n1 + n2
– 2) dan (X1 – X2)
< - t (1/2 α : n1 + n2 – 2)
Sp/ √1/n1
+ 1/n2
Sp/ √1/n1 + 1/n2
Contoh :
Dua macam
obat penambah bobot badan diberikan pada unggas untuk jangka waktu 3 bulan.
Obat 1 diberikan pada 10 unggas, sedangkan obat kedua diberikan kepada 9
unggas. Ingin diuji apakah terdapat perbedaan dalam sistem kerja pada kedua
macam obat tersebut dengan derajat kemaknaan 0,05.
Obat ke-1
dapat menambah produksi daging 9,6 kg dan obat ke-2 menambah produksi daging 10
kg.
Diketahui :
X1 =
9,6 kg X2 = 10 kg
S12
= 16
S22 = 9
n1 =
10 n2
= 9
Hipotesis
statistik:
H0
: µ1 = µ2
Ha
: µ1 ≠µ2
α = 0,05
dk = 17
Ditanyakan :
Apakah
terdapat perbedaan antara keduanya?
Penyelesaian :
Sp2 = (n1-1)S12
+ (n2-1)S22
n1 + n2 – 2
Sp2 = (10-11) 6 + (9-1) 9
= 12,7
17
S = 3,56
S (X1-X2) = S√1/n1
+1/n2
=3,56√1/10+1/9 = 1,636
t
= (X1- X2)
Sp √1 / n1 + 1/n2
=
(9,6- 10)
1,64
= - 0,244
t, dk 17 =
2,11
H0
akan diterima apabila hasil perhitungan “t” terletak antara -2,11 & + 2,11.
Kesimpulannya H0 diterima pada α 0,05atau p > 0,05 atau tidak
terdapat perbedaan antara 2 macam obat penambah bobot badan tersebut.
2.4.3. Pengujian Ho : µ1 = µ2
atau µ1 - µ2 = 0, Jika σ2 tidak
diketahui dan
σ 12 ≠
σ 22
Statistik t
dirumuskan sebagai berikut :
t = (X1-
X2) - (µ1 - µ2)
√S12 / n1 + S22/n2
db = (S12/n1)
+ (S2 / n2)2
(S12/ n1)2 + (S22
/ n2)2
n1 + 1 n2+2
Bila populasi berdistribusi normal atau mendekati normal maka varian
populasinya dapat ditaksir dari varian sampel. Rumus “t” tidak dapat langsung
digunakan karena hanya ini merupakan pendekatan saja, tetapi t ½ α harus
dihitung dahulu menggunakan rumus berikut :
t0,05 =
t1 (S12 / n1) + t2 (S22
/ n2)
S12 / n1 + S22 / n2
t’
= w1t1
+ w2t2
w1 + w2
dimana: w1
= S12 / n1
t1 = t (1/2 α; n1 – 1)
w2
= S22 / n2
t2 = t (1/2 α; n2 – 1)
sehingga
kriteria test untuk uji 2 arah :
- w1t1
+ w2t2 < t < w1t1
+ w2t2
w1 + w2
w1 + w2
Contoh :
Sepuluh ayam
broiler yang diare diberi kloramfenikol 3 x 500 mg per hari dengan kesembuhan
rata-rata 7 hari dengan deviasi standar 1,5 hari. Lima ayam broiler yang diare
diberi tetrasiklin 3 x 500 mg dengan rata-rata kesembuhan 6 hari dengan deviasi
standar 1,5 hari.
Jika ingin
diuji apakah terdapat perbedaan antara efek kloramfenikol dan tetrasiklin
terhadap penyakit diare pada derajat kemaknaan 0.05 maka bagaimanakah hasilnya
?
Diketahui:
n1 =
10 n2
= 15
S1 =
2
S2= 1,5
dk =
9
dk = 14
H0
: µ1 = µ2
Ha
: µ1 ≠µ2
α = 0,05
t
= 7-6
= 1,35
√4/10 + 2,25/15
t dk 9 =
2,262
t dk 14
= 2,145
t0,05 =
(2,62 x 4/10 + 2,145 x 2,25/15) / (4/10 +2,25/15)
= 2,23
Ternyata, t
< t0,05. Jadi, hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 0,05.
Kesimpulannya, tidak ada perbedaan antara kloramfenikol dan tetrasiklin dalam
pengobatan diare pada ayam broiler.
BAB III
KESIMPULAN
Hipotesis adalah perumusan sementara
mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan untuk menuntun
atau mengarahkan penyelidikan selanjutnya. Dalam melakukan hipotesis, ada dua
macam kekeliruan yang dapat terjadi, dikenal dengan nama-nama, yaitu kekeliruan
tipe I adalah menlolak hipotesis yang seharusnya diterima dan kekeliruan tipe
II adalah menerima hipotesis yang seharusnya ditolak. Prosedur pengujian
hipotesis, yaitu merumuskan hipotes, menentukan taraf nyata, menentukan uji
statistik, menentukan daerah keputusan dan mengambil keputusan, sehingga kita
dapat menarik kesimpulan sesuai dengan prosedur hipotesis.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, E. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Chandra, B. 2009. Biostatik
Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
Dajan, A. 1991. Pengantar Metode Statistik Jilid II. Jakarta: Lembaga Penelitian,
Pendidikan dan Penerangan Ekonomi
dan Sosial.
Kuswadi dan E. Mutiara. 2004. Statistik Berbasis Komputer untuk
Orang-Orang Non Statistik.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Spiegel, M. R. 1992. Statistik Versi SI (Metrik). Jakarta:
Penerbit Erlangga. Diterjemahkan oleh
I Nyoman Susila dan Ellen Gunawan.




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda